SEKILAS MENGENAL ANAK AUTISTIK - juandanobo
juandanobo
 

Pengertian :
Menurut bahasa
   Autistik atau Autisme berasal dari kata " Autos" yang berati diri sendiri dan "Isme "  berarti suatu aliran. Jadi  suatu aliran atau paham yang hanya tertarik pada dunianya sendiri (Berk, 2003) sedangkan menurut  Wall (2004) mengemukakan bahwa anak autistik/autisme anak yang tidak tertarik dengan dunia disekitarnya.

Menurut para ahli mengemukakan bahwa :

  1. Autistik atau autisme  merupakan gangguan perkembangan yang komplek dan muncul selama tiga tahun kehidupan pertama sebagai akibat gangguan neurologis yang mempengaruhi fungsi otak ( The Autism Society Of America : 2004).
  2. Autistik atau autisme berarti  gangguan perkembangan yang secara signifikan mempengaruhi komunikasi verbal dan non verbal  dan interaksi sosial, yang pada umumnya terjadi sebelum usia tiga tahun dan dengan keadaan ini sangat mempengaruhi ferforma pendidikannya (The Individuals With Diabilitiesucation Act : 1997).
  3. Sedangkan Hogan (2001) dalam Buku "The Son-Rise Programme Autism " menuliskan :
    " Autism is complex developmental disability  that typically appears during the firs  3 years of life, It can result in challenges in language, communication, emution, behavior, fine and gross motor skills and social interaction ".
           Dari  defenisi tersebut di atas dapat  ditarik suatu kesimpulan bahwa autistik atau autisme  adalah gangguan perkembangan  neurobiologis yang sangat kompleks dalam kehidupan yang panjang yang meliputi gangguan pada aspek prilaku, interaksi sosial, komunikasi dan bahasa,gangguan emosi, gangguan persepsi , dan gangguan  sensori motoriknya yang muncul sebelum usia  tiga tahun.

Penyebab  Autistik  atau autisme :
       Secara pasti  penyebab autistik atau autisme belum diketahui, namun dalam beberapa tiori  mengatakan bahwa faktor genetika memegang peranan penting pada terjadinya autistik atau autisme.
Bayi kembar satu telur akan mengalami gangguan autistik yang mirip dengan saudara kembarnya, juga ditemukan beberapa anak dalam  satu keluarga  mengalami gangguan yang sama. Selain itu pengaruh virus toxo, rubella, herpes, jamur, gizi yang buruk, dan keracunan makanan pada saat kehamilan dapat menghambat pertumbuhan sel otak yang dapat menyebabkan fungsi otak bayi dalam kandungan terganggu, terutama fungsi pemahaman, komunikasi dan interaksi.
        Akhir-akhir ini  dari hasil penelitian terungkap hubungan antara gangguan pencernaan dan gejala autistik atau autisme, ternyata  llebih dari 60 % penyandang autistik atau autisme  mempunyai sistem pencernaan yang kurang sempurna.  Makanan  berupa susu sapi (Casein) dan tepung terigu (Gluten) yang tidak dicerna dengan sepurna. Protein dari  kedua makanan tersebut tidak semua berubah menjadi asam amino tapi juga menjadi peptida, suatu bentuk rantai pendek asam amino yang seharusnya dibuang lewat urine. Ternya pada pada penyandang autistik, peptida ini diserap kembali oleh tubuh, masuk kedalam aliran darah, masuk keotak dan dirubah oleh reseptor opioid  menjadi morphin yaitu cosomorphin dan gliodophin, yang berakibat merusak sel-sel otak dan membuat fungsi otak terganggu. Fungsi otak yang terganggu biasanya fungsi kognitif, reseptif, atensi dan prilaku.
        Diperkirakan populasi penyandang autistik atau autisme 75 -80 %  disertai retardasi mental, sedangkan  20 %  dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi  dalam bidang-bidang tertentu.

Karakteristik Autistik atau Autisme :
Ada beberapa karakteristik yang dapat kita temukan pada penyandang Autistik adalah sebagai berikut :

  1. Komunikasi  Perkembangan bahasa sangat lambat, atau sama sekali tidak nampak, anak sering diaggap tuli, sulit berbicara, kata-kata yang digunakan tidak sesuai dengan artinya,  bahasa tidak dimengerti orang lain, senang membeo (Ecolalia), intonasi atau ritme vocal yang aneh, dan sering menggunakan isyarat tubuh.
  2. Interaksi Sosial :  Biasanya penyandang autistik tidak ada respon atau cuek, lebih suka menyendiri, kontak mata terbatas, menghindari bertatapan, tidak tertarik untuk bermain bersama, dan tidak bisa melakukan  permainan giliran.
  3. Gangguan Sensoris :  Sangat sensitif  terhadap sentuhan, sensitf terhadap  suara keras ,  senang mencium-cium benda ,  menjilat mainan, tidak sensitif terhadap rasa sakit  dan tidak sensitip terhadap rasa takut.
  4. Pola Bermain :  Tidak suka bermain dengan teman sebaya,  tidak kreatif, tidak imajinatif,  tidak bermain sesuai dengan fungsi mainan (sepeda dibalik lalu rodanya diputar-putar), senag akan benda yang berputar, dan sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.
  5. Prilaku :   Berprilaku berlebihan (hiperaktif)  atau berkekurangan (hipoaktif) , memperlihatkan prilaku stimulasi diri, seperti bergoyang-goyang, mengepakan tangan seperti burung, berputar-putar,  berjalan bolak-balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang dan tidak suka terhadap perubahan.
  6. Emosi :  Sering marah tampa alasan yang jelas, tertawa-tawa  atau menangis tampa alasan, temper tantrum (mengamuk tak terkendali), jika dilarang atau tidak terpenuhi keinginannya  suka menyerang, merusak, kadang-kadang berprilaku menyakiti dirinya sendiri, kurang atau tidak mempunyai empati  dan tidak mengerti perasaan orang lain.
  DAFTAR  PUSTAKA

  1. Handoyo, 2008  " Petunjuk Praktis dan Pedoman  Materi Untuk Mengajar anak normal, Autis, dan Prilaku lain"  Surabaya, PT. Bhuana Ilmu Populer.
  2. Joko Yuono,  2009 " Memahami Anak Autistik  "  Bandung, PT. Alfabeta.
  3. http//puterakembara. org/arcieves3/00000029.shtml



Leave a Reply.